Baca Juga
Hadits ke-9
عَن
عَبدِ
اللٌهِ
بنِ
عُمَرَ
رَضَى
اللٌهُ
عَنُهمَا
قَالَ
: قَالَ
رَسُولُ
اللٌهِ
صَلَي
اللٌه
عَلَيِه
وَسَلَمَ
يُقَالُ
لِصَاحِبِ
القُرانِ
اِقَرأ
وَارتقٌ
وَرَتٌلٌ
كًما
كُنتَ
تُرًتٌلٍ
فيِ
الدُنيَا
فَاِنٌ
مَنزِلَكَ
فيِ
اخٍرِايَةُ
تَقرَأهُا.
(رواه
أحمد
والترمذي
وأبو
داوود
والنسائي).
Dari Abdullah bin Umar r.huma.
berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “(pada hari Kiamat kelak) akan diseur
kepada ahli al Qur’an, ‘Bacalah dan teruslah naik, bacalah dengan tartil
seperti yang engkau telah membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya
tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Hr. Ahmad, Tirmidzi, Abu
Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Haban)
Maksud ‘ahli al Qur’an dalam
hadits ini adalah hafizh al Qur’an. Mulla Ali Qari rah.a. menjelaskan bahwa
keutamaan itu hanya diberikan kepada hafizh al Qur’an, tidak termasuk orang
yang membaca al Qur’an dengan melihat nash. Alasannya adalah: pertama, karena
lafazh itu memang ditujukan kepada ahli al Qur’an. Kedua, sesuai dengan hadits
yang diriwayat oleh imam Ahmad,
حتَّى
يقرا
شيئاً
منهُ
“…Sehingga ia membaca sesuatu
yang bersamanya.”
Kalimat ini cenderung ditujukan kepada hafizh al Qur’an, meskipun ada
kemungkinan orang yang selalu membaca al Qur’an juga dapat termasuk di
dalamnya.
Disebutkan didalam kitab Mirqaat
bahwa hadits ini tidak berlaku bagi pembaca al Qur’an yang dilaknat oleh al
Qur’an. Hal ini berdasarkan hadits yang menyebutkan bahwa banyak orang yang
membaca al Qur’an, tetapi al Qur’an melaknatnya. Oleh sebab itu, banyaknya
membaca al Qur’an yang dilakukan oleh orang yang aqidahnya menyimpang tidaklah
dapat dijadikan dalil (bukti) bahwa ia adalah orang yang diterima disisi Allah.
Banyak hadits semacam ini yang membicarakan tentang kaum Khawarij.
Mengenai ‘tartil’, Syaikh Abdul
Aziz (nawwarullaahu marqadahu) menulis di dalam tafsirnya bahwa arti asal
‘tartil’ adalah membaca dengan terang dan jelas. Sedangkan artinya menurut
syar’I adalah membaca al Qur’an dengan tertib seperti dibawah ini:
1. Setiap huruf harus diucapkan
dengan makhraj yang benar, sehingga ط tha’ tidak dibaca تَta’
danضَ
dha tidak dibacaظ zha.
2. Berhenti pada tempat yang benar, sehingga ketika memutuskan atau melanjutkan
bacaan tidak dilakukan ditempat yang salah.
3. Membaca semua harakat dengan benar, yakni menyebut fathah, kasrah dan
dhammah dengan perbedaan yang jelas.
4. Mengeraskan suara sampai terdengar oleh telinga kita, sehingga al Qur’an
dapat mempengaruhi hati.
5. Memperindah suara agar timbul rasa takut kepada Allah, sehingga mempercepat
pengaruh kedalam hati. Orang yang membaca dengan rasa takut kepada Allah,
hatinya akan lebih cepat tepengaruh serta menguatkan nurani dan menimbulkan
kesan yang mendalam di hati kita. Menurut para ahli pengobatan, jika ingin obat
lebih cepet berpengaruh kehati, sebaiknya obat itu dicampur dengan wewangian.
Obat dapat lebih cepat berpengaruh ke lever jika dicampur rasa manis, karena
lever mempunyai rasa manis. Oleh sebab itu saya berpendapat, jika seseorang
memakai wewangian saat membaca al Qur’an, akan lebih menguatkan kesan dalam
hatinya.
6. Membaca dengan sempurna dan jelas setiap tasydid dan madnya. Jika membaca
dengan lebih jelas, maka akan menimbulkan keagungan Allah serta mempercepat
masuknya kesan dalam hati kita.
7. Memenuhi hak ayat-ayat rahmat dan ayat-ayat adzab, seperti yang telah
diterangkan sebelunnya.
Itulah tujuh hal yang dimaksud tartil. Dan tujuan semua itu adalah satu, yaitu
agar dapat memahami dan meresapi isi kandungan al Qur’an.
Seseorang bertanya kepada Ummul
Mu’minin, Ummu Salamah r.ha., “Bagaimanakah Rasulullah saw. membaca al Qur’an?”
Ia menjawab, “Beliau menunaikan setiap harakatnya; fathah, dhammah, dan kasrah
dibaca dengan sangat jelas. Juga setiap hurufnya dibaca dengan sangat jelas.
Juga setiap hurufnya dibaca dengan terang dan jelas.”
Membaca dengan tartil itu
mustahab, walaupun tidak dipahami artinya. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Membaca
surat al Qari’ah dan Idzaa zulzilat dengan tartil lebih baik bagiku daripada
membaca al Qur’an al Baqarah atau Ali Imran tanpa tartil.”
Alim ulama menjelaskan maksud hadits di atas, bahwa membaca al Qur’an huruf
demi huruf akan menaikan pembacanya setingkat demmi setingkat, sehingga itu
pula derajatnya di surge nanti. Dan orang yang terpandai dalam al Qur’an,
dialah yang tertinggi derajatnya. Mulla Ali Qari rah.a. menulis bahwa tidak ada
derajat yang lebih tinggi daripada derajat orang yang suka membaca al Qur’an.
Pembaca al Qur’an senantiasa meningkat derajatnya sesuai dengan taraf kebagusan
bacaannya.
Allamah Dani rah.a. berkata, “Alim ulama telah sepakat bahwa ada enam ribu ayat
lebih dalam al Qur’an, namun mereka berbeda pendapat tentang jumlah selebihnya.
Ada yang menyebutkan 6.204 ayat, 6.014 ayat, 6.019 ayat, 6.025 ayat, dan 6.036
ayat.
Dalam Syarah Ihya ditulis bahwa
jumlah ayat al Qur’an itu sesuai dengan tingkat surga, sehingga dikatakan
kepada pembaca al Qur’an, “Naiklah ke surga tingkat demi tingkat sebanyak ayat
al Qur’an yang telah kamu baca”. Barangsiapa yang membaca seluruh ayat al
Qur’an, maka ia akan mencapai derajat surge yang tertinggi di akhirat. Dan
barangsiapa yang membacanya sebagian saja, maka derajat sebatas bacaannya itu
saja. Singkatnya, batas ketinggian derajat seseorang bergantung kepada
banyaknya bacaan Qur’annya.
Menurut pendapat saya, hadits
diatas juga mengandung penafsiran lain.
فَانْ
كان
صَوَاباً
فَمِنَ
الله
وَاِن
كان
خَطأً
فَمِني
وَمِنَ
الشّيطانِ
وَاللهُ
وَرَسُوْلهُ بَريئانِ
“Apabila (penafsiran saya) betul,
maka ia berasal dari Allah. Dan jika salah, maka ia berasal dari diri saya
sendiri dan dari syetan. Sedang Allah dan Rasul-Nya terbebas darinya.”
Kenaikan derajat yang disebutkan
dalam hadits diatas bukan bermaksud bahwa membaca suatu ayat al Qur’an akan
dinaikan suatu derajat. Sebab jika demikian, hubungan antara membaca dengan
tartil dan tanpa tartil tidak dapat dimengerti, sehingga akan dipahami bahwa
setiap membaca satu ayat al Qur’an, baik dengan tartil ataupun tidak, maka
derajatnya dinaikan satu tingkat. Sebenarnya hadits ini mengisyaratkan satu
peningkatan yang berbeda, yaitu peningkatan menurut cara membacanya, sehingga
ada perbedaan antara bacaan dengan tartil dan tanpa tartil. Oleh sebab itu,
barangsiapa membaca al Qur’an dengan tartil ketika di dunia ini, dengan tartil
itulah ia akan membacanya di akhirat., sehingga ia memperoleh ketinggian
derajat yang sesuai. Mulla Ali Qari rah.a.meriwayatkan sebuah hadits,
“Barangsiapa sering membaca al Qur’an di dunia, maka di akhirat nanti ia akan
dapat mengingatnya. Dan jika di dunia ia tidak membacanya, maka ia tidak akan
dapat mengingatnya di akhirat.” Semoga Allah memberikan kemurahan-Nya kepada
kita.
Banyak diantara orang tua yang
bersemangat agar anak-anaknya menghafal al Qur’an, namun karena
ketidaktawajuhan dan kesibukan dunia, hafalan itu terlupakan dan menjadi
sia-sia. Padahal di sisi lain, beberapa hadits menyebutkan bahwa barangsiapa
berusaha menghafal al Qur’an dengan sungguh-sungguh dan bersusah payah, lalu ia
meninggal dunia, maka Allah akan membangkitkannya dalam golongan para huffazh.
Kemurahan Allah sungguh tidak berkurang jika kita berusaha memperolehnya. Seorang
penyair berkata,
“Wahai syahid, kemurahan-Nya
untuk semua. Engkau tidak akan menolak kemurahan ini, jika engkau benar-benar
pantas.”
0 Response to "Hadis keutamaan al-quran hadist ke 9 dari 40"
Post a Comment